HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

Join Yuk

ANALISIS PERANAN MODAL ASING TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

JURNAL BISNIS DAN EKONOMI, SEPTEMBER 2001
ANALISIS PERANAN MODAL ASING TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
Oleh : ( 1 )Agung Nusantara dan ( 2 )Enny Puji Astutik
STIE Stikubank Semarang dan Alumni STIE Stikubank Semarang

ABSTRAK
Masih tertinggalnya perekonomian Indonesia pada awal orde baru, mendorong pemerintah untuk mencari sumber pembiayaan pembangunan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Investasi asing bagi Indonesia merupakan salah satu sumber pembiayaan pembangunan dalam proses pembangunan di Indonesia.
Dari berbagai penelitian diperoleh kesimpulan yang berbeda-beda mengenai kontribusi investasi asing terhadap pertumbuhan ekonomi. Penelitian di arahkan untuk menganalisis kontribusi investasi asing terhadap pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan variabel penanaman modal asing), utang luar negeri dan tabungan domestik
.
1. Pendahuluan
Pada awal tahap pembanguan I (Repelita I), Indonesia jauh tertinggal dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN. Pendapatan nasional Indonesia sebesar US $ 80 perkapita pada tahun 1971, sedangkan beberapa negara ASEAN sudah mencapai ± US $ 200 per-kapita. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia 1960 – 1970 kurang dari 4% per-tahun. Tingkat pembentukan modal domestik juga sangat rendah, kurang dari 8% dari PDB, dan tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (Basuki dan Sulistyo, 1997: 51).
Selama Pembangunan Jangka Panjang I (PJPT I), utang luar negeri berperan sebagai dana tambahan untuk mempercepat laju pertumbuhan dan pembangunan ekonomi Indonesia. Selama periode tersebut , pembayaran kembali kewajiban yang terkait dengan utang luar negeri belum dianggap beban bagi perekonomian nasional, karena sebagian besar kewajiban pembayaran utang masih terdiri dari pembayaran bunga pinjaman saja. Sejak 1990, cicilan pokok pinjaman sudah harus mulai dibayar, namun tabungan domestik masih belum memadai, akibatnya total kewajiban menjadi lebih besar dari pinjaman baru. Dengan kata lain, sejak saat itu sudah terjadi transfer negatif modal neto (net negatif resources transfer). Transfer negatif modal neto tersebut dibiayai dari hasil pengetatan konsumsi dalam negeri dan pengetatan pengeluaran pemerintah, sehingga kemampuan keuangan pemerintah untuk membiayai pembangunan prasarana dan investasi sosial menjadi semakin terbatas (Arryman, 1999).
Tabel 1:
Transfer Netto Indonesia 1991 – 1999 (Dalam US $ Ribu)

Tahun
Uang Yang Dicairkan
Bunga dan Cicilan Utang
Transfer Netto
(UYO – BCU)
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
11.754.429
13.532.913
8.084.176
12.546.541
13.628.469
20.980.971
8.090.965
6.227.120
3.799.933
11.491.786
12.356.642
14.088.759
14.267.074
16.415.932
21.459.181
23.275.962
18.836.158
18.076.192
266.647
1.176.271
-6.004.583
-1.720.538
-2.787.463
478.210
-15.184.597
-12.609.038
-14.276.259
Sumber : World Bank, Indonesia Sustaining Growth 1996, World Bank, World debt Tables, 2000.
Sebagaimana halnya dengan utang luar negeri, penanaman modal asing (PMA) dan investasi portofolio merupakan salah satu sumber pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Penanaman modal asing, baik penanaman modal langsung maupun investasi portofolio, diarahkan untuk menggantikan peranan dari utang luar negeri sebagai sumber pembiayaan pertumbuhan dan pembangunan perekonomian Nasional. Peran penanaman modal asing dirasa semakin penting melihat kenyataan bahwa jumlah utang luar negeri Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan.
Pada masa Orde Baru, modal asing, khususnya utang luar negeri, secara faktual ditempatkan sebagai sumber utama pembiayaan pembangunan, meskipun secara normatif harus ditempatkan sebagai sumber tambahan. Kenyataan inilah yang menyebabkan bahaya tersembunyi, yang secara inheren melekat pada pola pembangunan yang didorong modal asing. Apabila posisi ketergantungan semakin besar, semakin besar pula resiko terkait yang harus dihadapi oleh sistem ekonomi global dalam bentuk ketergantungan terhadap modal asing, khususnya utang luar negeri (Rachbini, 1995).

2. Review Beberapa Riset Terkait
Studi empiris mengenai pengaruh arus masuk modal asing terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara sedang berkembang telah banyak dilakukan. Peran modal asing dalam perekonomian atau pertumbuhan ekonomi sampai saat ini masih diperdebatkan, baik mengenai intensitas maupun arahnya. Menurut Michael F. Todaro (1994) terdapat dua kelompok pandangan mengenai modal asing. Pertama, kelompok yang mendukung modal asing, mereka memandang modal asing sebagai pengisi kesenjangan antara persediaan tabungan, devisa, penerimaan pemerintah, ketrampilan manajerial, serta untuk mencapai tingkat pertumbuhan. Kedua, kelompok yang menentang modal asing dengan perusahaan multi nasionalnya, berpendapat bahwa modal asing cenderung menurunkan tingkat tabungan dan investasi domestik.
Dengan menggunakan data tahun 1970 – 1986, Sritua Arif dan Adi Sasono (1987: 45-46) menemukan bahwa arus bersih modal asing yang masuk ke Indonesia, baik yang berupa investasi modal asing dan hutang luar negeri, setelah memperhitungkan pembayaran cicilan hutang, bunga dan keuntungan yang ditransfer pihak asing ke luar negeri, menunjukkjan nilai kumulatif negatif, bahkan modal asing ini cenderung berdampak mendesak keluar (crowding out) terhadap tabungan domestik. Hasil yang serupa juga dikemukakan oleh Rahman (1979), Griffin dan Enos (1970), Weiskoft (1972) Chenery dan Strout (1979), Hujman (1968) dan Mudrajat Kuncoro (1982) yang menunjukkan bahwa modal asing berpengaruh negatif terhadap tabungan domestik diberbagai negara berkembang termasuk Indonesia. Disamping itu, arus modal asing juga dapat berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, walaupun secara statistik tidak signifikan. Studi-studi tersebut juga menemukan bahwa tabungan domestik lebih penting peranannya daripada modal asing, baik secara kuantitatif maupun statistik dalam menentukan pertumbuhan ekonomi, hanya studi Bangley (1978) yang menunjukkan bahwa utang luar negeri meningkatkan tabungan domestik, tapi ini hanya terjadi di negara Amerika Latin.
Analisis time series di beberapa negara seperti; Pakistan, Cina, Korea menunjukkan bahwa utang luar negeri memiliki kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi baik di negara miskin maupun kaya. Disamping itu, Papanek dan Dowling (1983) mendukung hipotesis bahwa utang luar negeri berkontribusi cukup besar bagi pertumbuhan ekonomi seperti tabungan domestik dan aliran modal masuk swasta, khususnya di beberapa negara Asia. Hasil studi ini sesuai dengan penelitian Rana-Dowling (1988) untuk negara berkembang selama 1965 – 1982 dengan menggunakan persamaan simultan. Mereka menyimpulkan bahwa arus modal asing memberi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, investasi langsung asing memberi kontribusi terhadap pertumbuhan baik melalui pembentukan kapital maupun peningkatan efisiensi investasi, dan utang luar negeri memberi kontribusi lebih besar daripada arus modal asing (Rana-Dowling 1988; Iwasaki, 1986).
Dalam garis besarnya, terdapat tiga sumber utama modal asing dalam suatu negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, yaitu pinjaman luar negeri (debt), Penanaman Modal Asing langsung (Foreign Direct Investment=FDI) dan investasi portofolio (Pangestu, 1995). Pinjaman luar negeri dilakukan oleh pemerintah secara bilateral maupun multilateral, FDI merupakan investasi yang dilakukan swasta asing ke suatu negara. Bentuknya dapat berupa cabang perusahaan multinasional, anak perusahaan multinasional, lisensi, Joint Ventura, sedangkan investasi portofolio merupakan investasi yang dilakukan melalui pasar modal.
Manfaat yang dapat diharapkan dari suatu paket modal asing (FDI) berupa penyerapan tenaga kerja; alih teknologi; pelatihan manajerial dan akses ke pasar Internasional melalui eksport.

3. Metodologi
Data yang digunakan dalam studi ini merupakan data sekunder berbentuk data time series tahunan. Data yang dipergunakan meliputi data pertumbuhan ekonomi (GDB) yang diperoleh dari International Financial statistic terbitan IMF, utang luar negeri (AID) dan tabungan domestik (s) dari Nota Keuangan Negara, serta data investasi asing (PMA) dari Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia Bank Indonesia.
Model dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pertumbuhan ekonomi yang dikembangkan oleh Papanek (1973) dan Mosley (1980).

GDB = f (FDI, AID, S)

Keterangan:

GDB = Growth domestik bruto;
FDI =Penanaman modal asing ;
AID =Utang luar negeri;
S =Tabungan domestik

Metode Estimasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda Orinary Least Square (OLS), dengan spesifikasi model sebagai berikut :

GDBt = b0 + b1 FDIt + b2 AIDt + b3 St + ├Čt

Konsep penting dalam OLS adalah asumsi stasionaritas dimana semua variabelnya harus bersifat non stochastik. Asumsi ini mempunyai konsekuensi yang tidak akan berubah terlalu besar seiring dengan periode waktu pengambilan sampel dan mempunyai kecenderungan mengarah pada nilai rata-rata (mean) sehingga pengabaian terhadap asumsi stationaritas dapat menyebabkan munculnya regresi lancung (spurious regresion) yang ditandai dengan nilai R2 yang tinggi tetapi nilai Durbin Watsonnya rendah. Untuk menghindari gejala spurious regression maka dalam penelitian ini akan dilakukan pengujian kointegrasi. Uji kointegrasi merupakan uji terhadap model analisis terhadap persoalan regresi lancung. Jadi sebelum menggunakan model, harus diyakini bahwa data runtun waktu yang digunakan mempunyai derajat atau orde integrasi yang sama.
Pengujian kointegrasi dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Cointegration Regression Durbin Watson (CRDW) dan metode Dickey-Fuller (1981: 1057-1072) Setelah melakukan regresi terhadap model dasar, maka dapat diketahui nilai Durbin Watson Statisticsnya. Angka DW inilah yang digunakan untuk menentukan sifat kointegratif model yang bersangkutan. Apabila model analisis tidak stasioner, maka angka statistik DW-nya akan mendekati nol, dan menolak hipotesis nol non-kointegrasi. Sebaliknya, apabila angka statistik DW-nya besar, maka akan menerima hipotesis alternatif berupa sifat kointegratif ditemukan pada model analisis. Uji CRDW ini merupakan model uji yang menggunakan order satu.
Metode Dickey-Fuller (DF) bekerja pada order yang lebih tinggi daripada CRDW, model ujinya dapat dirumuskan sebagai berikut:

D(RESt) = c - jRESt-1+y1D(RESt-1)+…+ ynD(RESt-n)+et
Hipotesis nol dan dasar pengambilan keputusan lainnya yang digunakan dalam uji ini di dasarkan pada statistik McKinnon sebagai pengganti uji-t.
4. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Uji Kointegrasi
Dengan menggunakan uji kointegrasi yang dikembangkan oleh Engle-Granger (CRDW) dan Dickey - Fuller (DF), diperoleh hasil pengujian sebagai berikut:


Tabel 2:
Uji Kointegrasi


METODE KOINTEGRASI
CRDW
DICKEY-FULLER
GDB = f (FDI, AID, S)
1.6718*
-4.7498**
Keterangan:
(*) signifikan pada taraf 1% di dasarkan atas statistik CRDW (Engle and Granger (ed), 1991: 101)
(**) signifikan pada taraf 10% di dasarkan atas statistik MacKinnon Value
Dari hasil pengujian terbukti bahwa model analisis lolos dari kecenderungan spurious regression. Dengan demikian analisis model dapat dilanjutkan dengan menggunakan model tersebut.

Analisis Regresi Berganda
Hasil estimasi persamaan linier dapat dilihat pada tabel dibahwa ini :
Tabel 3:
Hasil Estimasi OLS
GDB = -6,4303584 + 7,571 AID + 0,0016238 FDI – 3,452 S
(-2,1798) (2,6785) (5,6137) (-1,6976)
R2 0,796
DWR 1,6718
LM (F-test) 0,13737
ARCH (F-Test) 0,92356

Untuk hasil analisis regresi diperoleh bahwa variabel utang luar negeri (AID), penanaman modal asing (FDI) dan tabungan domestik (S) mempunyai hubungan yang signifikan terhadap variabel pertumbuhan ekonomi. Hasil uji t pada tabel diatas menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut mempunyai t-hitung yang lebih besar daripada t-tabel derajat signifikan 0,025% yaitu ( ± 0,201). Dari nilai tersebut kita tidak bisa menerima Ho (Ho ditolak) atau variabel utang luar negeri, penanaman modal asing dan tabungan domestik mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
Koefisien hasil estimasi memberikan tanda positif, yang berarti variabel utang luar negeri dan penanaman modal asing berpengaruh positif terhadap variabel pertumbuhan ekonomi. Sedangkan hasil estimasi variabel tabungan domestik memberikan tanda negatif, yang berarti mengindikasikan hubungan negatif antara variabel tabungan domestik dengan pertumbuhan ekonomi.
Disamping itu dari tabel terlihat bahwa hasil estimasi lolos dari uji diagnosa regresi klasik, yaitu autokorelasi hmos kedastisitas dan multikolinearitas, uji autokorelasi menggunakan uji Durbin-Watson, uji homoskedastisitas menggunakan uji ARCH, serta multikolinearitas dengan menggunakan uji LM.
Nilai koefisien variabel utang luar negeri sebesar 7,571 mengindikasikan bila ada kenaikan utang luar negeri sebesar 1 unit, maka akan menyebabkan kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,571. Nilai koefisien penanaman modal asing sebesar 0,0016238 mengindikasikan apabila ada kenaikan FDI sebesar 1 unit, maka akan menyebabkan adanya kenaikan FDI sebesar 0,0016238. Sedangkan nilai koefisien variabel tabungan domestik sebesar –3,452 mengindikasikan apabila ada kenaikan tabungan domestik sebesar 1 unit akan menyebabkan penurunan terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 3,452. Uji F menunjukkan bahwa nilai F-hitung (14,308) lebih besar dari F-tabel adalah 3,29, yang berarti secara serempak variabel AID, FDI dan S signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Pengujian terhadap ada tidaknya heterocedasticity dilakukan dengan mengggunakan uji ARCH, dengan uji ARCH didapatkan model menghindarkan diri dari sifat heterocedasticity pada taraf signifikansi 92% atau Ho tentang homocedasticity diterima pada taraf 92%.
Pendeteksian terhadap ada tidaknya multikolinearitas dilakukan dengan menggunakan uji LM. Dari uji LM correlation didapatkan bahwa model menghindarkan diri dari sifat multikolinearitas pada taraf signidikan sebesar 71,8% atau Ho tentang non multikolinearitas diterima pada taraf 71,8%.
Pengujian terhadap autokorelasi dilakukan dengan melihat DW-statistik, yaitu dengan cara membandingkan DW-test dari setiap model dengan nilai yang diperoleh dari penggunaan angka 4 dengan dikurangi DW-tabel : jika DW test < (4 – DW tabel ) maka model yang digunakan tidak terjadi otokorelasi dan jika DW test > (4- Dw tabel) maka terjadi otokorelasi. (Nilai DW hitung 1,671853 DW tabel : 0,59). Dari hasil perhitungan tersebut didapatkan bahwa model terhindari dari otokorelasi.
IMPLIKASI KEBIJAKAN
Untuk meningkatkan kontribusi utang luar negeri, tabungan domestik serta investasi asing terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah sebagai berikut :
Upaya penarikan investasi asing ke Indonesia perlu ditingkatkan. Oleh karena itu perlu dilakukan penyederhaan proses pengurusan izin-izin dan adanya keterpaduan koordinasi antar departemen melalui pemotongan jalur birokrasi, serta diterapkannya insentif perpajakan yang transparan dalam bentuk tax holiday yang masih baru untuk beberapa tahun. Disamping itu investasi asing mempunyai potensi untuk memberikan kontribusi yang nyata bagi pertumbuhan ekonomi tidak hanya melalui transfer teknologi dan perbaikan pengetatan manajemen misalnya dengan pengembangan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia, mendukung teknologi yang diterapkan, sehingga rencana alih teknologi dapat terlaksana dengan baik.
Agar pengalokasian bantuan luar negeri optimal, maka perlu dipikirkan reorientasi proyek yang dibiayai dengan utang luar negeri serta peran pengawasan baik oleh institusi yang berwenang melalui wakil-wakilnya perlu ditingkatkan.
Untuk mengurangi ketergantungan negara terhadap sumber-sumber pembiayaan pembangunan dari luar negeri, maka perlu diupayakan mobilisasi dana dari dalam negeri. untuk itu diperlukan upaya intensifikasi tabungan domestik melalui :
Penggalakan pemungutan pajak (kekayaan dan barang mewah) yang bersifat progresif dan berdasar pada ability to pay.
Perlunya pendewasaan fungsi perbankan dan lembaga keuangan bukan bank agar mampu menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan investasi.

DAFTAR PUSTAKA

Arif Arryman (1999), "Momentum untuk Keluar dari Perangkap Hutang Luar Negeri", Dalam Roem Tapatimasang (Ed) "Hutang Itu Hutang". Insist dan Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Bambang Kustianto dan Istikomah (1999). "Peranan Modal Asing Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia", Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol.14, No. 2

Chenery, Holis and Alan Strout (1979) "Foreign Asistance and Economic Development" American Economic Review, September 1966.

Didik J. Rochbini (1995) "Resiko Pembangunan Yang dibimbing Utang" Gramedia Jakarta.

Damodar Gujarati (1986), "The External Debt Contribution to Output, Employment Productivity and Consumetion; A model and A Aplication to Chile". Economic Modelling, Januari 1986.

Dowling, J. Malcolm and Ulric Hipmenz (1983), "Aid, Saving and Growth in the Asian Region" Development Economic, Vol.21, No. 1, Maret 1983.

Grinols, Earl and Jagdish Shagwati. "Foreign Capital, Saving anbd Dependences", The Review of Economic and Statistik, Vol.LXIII, No.4, November 1976.

Hill, Hal (1990), "Indonesia’s Industrial Transformation, part I", Buletin of Indonesia Economic Studies, 26 (2), PP. 79-120.

Irawan dan M. Suparmoko (1992) "Ekonomi Pembangunan", BPFE, Yogyakarta

Lee, J.S and Y.Iwasaki (1986) "Effect of Foreign Capital Inflow an Developing Countries in Asia", Economi Staff Popei, No.36 Chapter IV Asia Development Bank, April 1986.

Meier, G.M (1985), "Private Direct Invesment, Finance and Development". Asia Development Review, Vol.3, No.2, 1985.

Michalopoulus, C (1985), "Private Direct Invesment, Finance and Development". Asian Development Review, Vol.3 No.2, 1985.

Mudrajat Kuncoro (1989), "Dampak Arus Modal Asing Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Tabungan Domestik". Prisma, No.9, Jakarta.

Mudrajat Kuncoro (1994)" Dilema Utang Luar Negeri Indonesia", Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Vol. 4, No. 1, Oktober 1994, Yogyakarta.
Papanek, Gustav F (1973), "Aid Foreign Private Invesment, Savings and Growth in Less Dovelopment Countries". Jurnal of Political Economy, Vol.81, No.1, February 1973.

Praduma, B. Rana and J. Malcolm Dowling, Jr (1990), "Foreign Capital and Asian Economic Growth", Asian Development review. Vol.8, No.2, 1990.

Pradumo, B. Rana and J. Malcolm Dowling (1988). "The Impact of Foreign Capital and Growth : Evidences From Asian Developing Countries". The Developing Economies, Vol. XXVI, No. 1, Maret 1988.

Sritua Arief dan Adi Sasono (1987)’ "Modal Asing, Beban Utang Luar Negeri dan Ekonomi Indonesia", Lembaga Studi Pembangunan dan UI Press, Jakarta.

Thee Kian Wie (1994)" Industrialisasi di Indonesia", LP3ES, Jakarta.

Todoro, P. Michael (1998), ‘Ekonomi Pembangunan di Dunia Ketiga", Bina Aksara, Jakarta.

UI Haq Mahbub (1976), "The Poverty Curtain, Choices For The Third World", Columbia University Press, New York.

Weisskof, Thomas. E (1972), "The Impact of Foreign Capital Inflow on Domestic Saving in Underdeveloped Countries", Journal of International Economics, February, 1972.

Yaswar Zainulbasri (2000) "Utang Luar Negeri, Investasi dan Tabungan Domestik: Sebuah Survey Literatur", Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol.15, No.3.

Zulkarnain Djamin (1994), "Pinjaman Luar Negeri serta Prosedur Alternatif dalam Pembiayaan Proyek Pembangunan Indonesia", UI Press, Jakarta.

Join Yuk!!